PenghujanMu hampir tergantikan oleh kemarauMu
Akankah tetap tercurah rahmat yang semerbak dariMu?
Tuhan..dari derunya malam ini, ku semai doa agar kau selalu
menjaga Ia (sahabat).
Ia yang saat ini menopang amanah,
Ia yang saat ini selalu tegar.
*
Tuhan…
Jika aku terbiasa menguak senandung hati yang sedalam lautan
dengannya,
kali ini tidak
Jika aku terbiasa menebar canda-tawa yang bergelora dengannya,
kali ini tidak
Jika aku terbiasa menggelanggang menikmati paras malam kota dengannya,
kali ini tidak
Jika aku terbiasa mengurai asa dan menggapai bintang dengannya,
kali ini tidak
Bahkan untuk mengecap se-cup
ice cream chocolate & vanilla malam ini,
Aku tak sanggup menuangkan wajahnya.
Ada apa Tuhan?
Ada apa dengan rasa ice cream ini?
Kembalikan rasa manis dan menggembirakan dalam ice cream ini.
Kembalikan rasa manis dan menggembirakan dalam ice cream ini.
Jangan ubah ice cream
ini menjadi beberapa rasa yang tidak dapat kuuraikan dengan lidahku.
Aku rindu kamu
Aku rindu kamu
Aku rindu kamu
Bahkan aku bingung apa yang harus ku katakan untuk menyatakan
jika aku rindu kamu
Ya. “kamu”
Kamu yang menjadi komplotan sebuah kelompok yang berawalan “K” dan
berakhiran “G”
Rindu saat berbagi, rindu saat memberi, rindu dengan caramu
menghargai kami, rindu caramu menjahili kami, rindu sapaanmu, rindu
kebingunganmu, rindu ketangkasanmu, rindu nasihatmu, rindu pengalamanmu.
Malam ini aku teringat pada kalian dan aku rindu.
Tuhan..indah sekali momen-momen itu.
Di balik bilik diskusi, pelataran mini market, taman kota,
perpustakaan bahkan warung di pinggir jalan.
Dalam event birthday surprise, ngabuburit, buka bersama, turun ke jalan,
wedding invitation, etc
Semuanya penuh keceriaan.
Semuanya sederhana.
Bahkan hidup kita hanya sebatas tawa dan tangis bahagia.
Bagaimana bisa malam ini aku menangisi semua itu dengan raungan
hati yang menyakitkan.
Ada kepahitan yang tertahan dan mengkristal di dalam.
Bagaimana bisa aku membantumu. Sedang engkau tidak merasa terbantu olehku!!
Ada apa tuhan?
Iramanya telah barbeda
Ia tak mengerti apa yang ku rasa
Ia tak ada saat aku seorang diri dalam bilik itu
Aku masih mengingatmu,
dalam kebodohan yang luar biasa saat kamu membeli dua baju dengan
warna & model yang sama
Aku masih mengingatmu,
dalam keterasingan yang luar biasa saat kamu terhimpit masalah
keluarga
Aku masih mengingatmu,
dalam kegundahan yang luar biasa saat kamu terhimpit beberapa
amanah
Lalu..bagaimana denganmu, sohib?
dan.. Allah ku titipkan rindu ini untuk kau sampaikan padanya.
karena hanya Engkau yang tahu bagaimana rindu ini membuatku bisu lalu menitihkan airmata .
karena hanya Engkau yang tahu bagaimana rindu ini membuatku bisu lalu menitihkan airmata .
*
*
*
*
*
Hanya Pasir
oleh Moenthe Carlo
ehm…
waktu sudah berhasil membangun tembok pemisah
beberapa bulan yang lalu yang terlihat baru pondasi
tapi kini, tembok besar berdiri dengan angkuh
ehm…sahabat
sadarkah bahwa aku tak lagi bisa memandangmu
karena kamu berada di balik tembok itu
sahabat…
beberapa bulan yang lalu aku dengar bisikan angin
“waktu akan membangun tembok buat kalian”
sahabat aku sadar akan hal itu, tapi terlambat…
saat ini ketika sebuah benteng telah berdiri kokoh
aku berusaha menghancurkannya dengan sebuah kerikil
tapi usahaku tidak berhasil
dan aku coba menggali walau mustahil
dan jikalau berhasil
aku akan mati tertimpa dibawahnya
lalu selamat tinggal buat sahabat
karena mungkin engkau hanya menganggapku
seperti pasir bertaburan
waktu sudah berhasil membangun tembok pemisah
beberapa bulan yang lalu yang terlihat baru pondasi
tapi kini, tembok besar berdiri dengan angkuh
ehm…sahabat
sadarkah bahwa aku tak lagi bisa memandangmu
karena kamu berada di balik tembok itu
sahabat…
beberapa bulan yang lalu aku dengar bisikan angin
“waktu akan membangun tembok buat kalian”
sahabat aku sadar akan hal itu, tapi terlambat…
saat ini ketika sebuah benteng telah berdiri kokoh
aku berusaha menghancurkannya dengan sebuah kerikil
tapi usahaku tidak berhasil
dan aku coba menggali walau mustahil
dan jikalau berhasil
aku akan mati tertimpa dibawahnya
lalu selamat tinggal buat sahabat
karena mungkin engkau hanya menganggapku
seperti pasir bertaburan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar