Sabtu, 19 November 2011

Emang Akhwat Bisa Jatuh Cinta..??

Wah, ngomongin tentang cinta. Akhwat?! Jatuh cinta?! Emang bisa?!
Woi, woi, akhwat juga manusia, akhwat juga bisa jatuh cinta, seakhwatnya akhwat juga punya rasa cinta, benci, suka, dll.
Nih, salah satu contoh percakapan dua orang akhwat:

Nayla: “ras, mau nanya donk!”
Laras: “nanya apa?!“
Nayla: “tapi, kamu jawab yang jujur ya!”
Laras: “iya, emang apa?”
Nayla: “kamu pernah jatuh cinta ga?”
Laras terdiam cukup lama. Sambil berjalan di gang yang tak begitu lebar, Laras menanyakan pada dirinya sendiri: ”Pernahkah aku jatuh cinta?”
Nayla yang berjalan di depan Laras memperlambat langkah agar mereka bisa berjalan sejajar dan Nayla menunggu jawaban dari Laras.
Laras: “iya, pasti-lah pernah!” (bohong, jika ada yang mengatakan tidak pernah jatuh cinta, pikir Laras)
Nayla: “sama ikhwan?! Baru-baru ini?! (Nayla hanya memastikan bahwa sahabatnya itu pernah jatuh cinta dengan ikhwan; akhwat jatuh cinta sama ikhwan!)
Laras: “emmm, mungkin lebih tepatnya kagum! Ya, kagum! Hanya sebatas itu.” (Laras mengoreksi jawabannya. Laras pikir selama ini rasa itu hanya sebatas rasa kagum, gak lebih)
Nayla: “yup! Lebih tepatnya kagum! Aku kira orang kayak kamu gak bisa jatuh cinta!”
Laras: “loh, kenapa kamu mikir kayak gitu?!”
Nayla: “ya, akhwat kayak kamu itu kayaknya gak mungkin punya perasaan apa-apa sama ikhwan, gak mungkin jatuh cinta. Kamu itu kalem, pendiem, berwibawa banget. Ya gak mungkin-lah.”
Laras: “Tapi, nyatanya, aku bisa kagum juga kan sama ikhwan?! Itu mah fitrah kali!”

Yup! Yang namanya kagum, apalagi kagum antar lawan jenis, hal itu mah wajar-wajar aja. Yang gak wajar itu, kalo rasa kagum yang ada pada diri kita malah membuat kita melakukan hal-hal yang gak sepantasnya dilakukan (apaan tuh?!), apalagi oleh ikhwan akhwat loh. Berat euy sandangan ikhwan akhwat itu. Yang ada di pikiran kebanyakan orang nih, yang namanya ikhwan akhwat itu gak nganut yang namanya pacaran. Ikhwan akhwat lebih nganut system ta’aruf sebelum nikah. Gaya pacaran ikhwan akhwat, ya setelah mereka nikah nanti.
Nih, bukti kalo orang umumnya udah nganggap ikhwan akhwat gak nganut system pacaran.
Di sela-sela praktikum ada sebuah kelompok yang isinya perempuan semuanya bahkan asisten laboratoriumnya (aslab) juga perempuan. Saat menunggu campuran di refluks, yang namanya perempuan kalo lagi gak ada kerjaan pasti ngobrol-ngobrol. Nah, di saat-saat menunggu itulah, terjadi sebuah obrolan di antara kelompok itu bersama aslab-nya. Dan yang diomongin sama perempuan ya gak jauh dari laki-laki. Mereka membicarakan tentang pacar mereka satu persatu. Di kelompok tersebut ada seorang akhwat. Nah, ketika semuanya telah bergiliran menceritakan tentang pacarnya, tinggal si akhwat inilah yang belum bercerita. Kemudian akhwat ini bertanya: “Kok pada gak nanyain aku sih?”, dengan gaya sok lugunya.
Sang aslab-pun langsung spontan menjawab: “kalo kamu mah gak usah ditanyain, nanti juga tiba-tiba undangan nyampe di tanganku.”
Ya, itulah pandangan orang pada umumnya tentang ikhwan akhwat yang gak nganut system pacaran.
Lantas, bagaimana sebenarnya kondisi interaksi ikhwan akhwat itu sendiri?! Apakah seperti yang di duga kebanyakan orang pada umumnya?! Akankah interaksi yang dilihat selama ini di luaran sama seperti yang aslinya?!
Banyak orang yang memperhatikan bahwa ikhwan akhwat itu sangat menjaga dalam berinteraksi. Namun terkadang, ikhwan akhwat juga bisa khilaf. Loh kok khilaf?! Maksudnya apa?!
Ada hal-hal yang terkadang sulit dilakukan ikhwan akhwat untuk menjaga interaksi itu. Misalnya nih, pada saat praktikum, akan banyak kemungkinan bagi ikhwan akhwat untuk bersentuhan. Eits, bersentuhan di sini bukan karena di sengaja loh, tapi memang kondisi praktikum yang membuatnya bisa seperti itu. Interaksi seperti ini mungkin masih bisa diwajarkan jika memang tidak bisa dihindari lagi. Tapi kalo masih bisa dihindari, ya di minimalisir.
Ada lagi misalnya, ketika ikhwan akhwat berkecimpung di sebuah organisasi. Entah itu organisasi seperti BEM atau Mushalla sekalipun. Adakalanya ketika berinteraksi di BEM misalnya, terkadang sulit untuk menundukkan pandangan atau tidak bercanda secara berlebihan. Hal ini mungkin masih bisa dimaklumi karena kondisinya yang cukup heterogen. Kalo kata seseorang: “ya, jangan kaku-kaku amat!” Tapi, kalo kondisinya lebih banyak orang yang paham akan batasan interaksi, apakah itu diwajarkan?! Dijawab sendiri ya sama diri masing-masing.
Namun akhirnya bukan pembenaran yang muncul dengan kondisi seperti itu. Ikhwan akhwat tetap harus menjaga interaksi. Atau kalaupun akhirnya memang tidak bisa dihindari untuk ‘mencair’, ya sudah lakukanlah interaksi itu sewajarnya. Ikhwan akhwat aktivis dakwah biasanya punya system pengentalan tersendiri. Tiap orang punya cara yang berbeda untuk ‘mengentalkan’ dirinya kembali.
Misalnya, Rama, seorang aktivis BEM, yang setiap melakukan ‘pencairan’ dan dia tersadar bahwa dirinya telah melakukan hal ‘pencairan’ tersebut, dia pun langsung ke sebuah ruangan, shalat dua rakaat. Temannya, Beno, yang melihat hal itu terus menerus heran. Kenapa heran?! Karena waktu itu bukan termasuk waktu Dhuha, lantas Rama itu shalat apa? Dengan rasa penasaran Beno pun bertanya kepada Rama yang baru selesai shalat.
“Akhi, ini kan bukan waktu Dhuha, dan tempat ini juga bukan masjid, Antum shalat apa, dua rakaat? Dhuha bukan, tahiyatul masjid juga bukan.”
“Akhi, sesungguhnya tadi kita telah melakukan ‘pencairan’, maka Ana melakukan pengentalan diri Ana dengan shalat sunnah dua rakaat. Agar diri ini tidak melakukan pembenaran atas apa yang barusan kita lakukan.”
Ya, tiap orang punya mekanisme pengentalan tersendiri. Ibarat suatu fluida, jika dia berada di tempat yang sempit atau berada di suatu pipa yang diameternya kecil, maka untuk dapat melewati itu, dia perlu mengurangi kekentalannya, sehingga fluida itupun dapat mengalir dengan lancar. Namun jika memang fluida itu telah berada di pipa dengan diameter yang lebih besar, maka kekentalannya perlu dikembalikan seperti semula agar mengalirnya fluida itu tetap konstan seperti aliran sebelumnya.
Bahkan, ikhwan akhwat yang berkecimpung di Mushalla pun tak terlepas dari hal ini. Kadang, walaupun interaksi di batasi dengan hijab pandangan, hijab hati belum tentu bisa di jamin. Ingat dulu yuk, firman Allah: “Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati” (QS 64:4).
Ingat! Apa yang tersembunyi dalam hati kita, Allah juga akan mengetahuinya. Bisa saja kelihatan dari luar, interaksi ikhwan akhwat biasa-biasa saja, namun ternyata di balik hatinya atau di balik hijab itu ada ‘sesuatu’ yang aneh dengan interaksi itu. Ya, semoga kita bukan termasuk ke dalamnya. Kalaupun sudah terlanjur berbuat seperti itu maka marilah kita sama-sama mengazamkan dalam diri untuk menjaga interaksi itu.
Ada kasus juga ikhwan yang curhat ke akhwat ataupun sebaliknya. Misalnya saling menganggap saudara sehingga dalam berinteraksi ya layaknya saudara kandung. Memang betul sih, bahwa persaudaraan yang dibangun ‘di sini’ atas dasar keimanan bukan pertalian darah. Walaupun hanya menjadikan tempat curhat dan gak lebih dari sekedar saudara, tapi sebaiknya tetap berhati-hati karena masalah hati gak ada yang tau. Tetap saja, itu bukan mahramnya kalaupun toh mau berakrab-akrab ria. Bisa aja hari ini curhat-curhatan, eh besoknya mulai timbul ‘rasa’ yang berbeda. Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu dakwah. Apalagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan dakwah. Atau bisa saja si ikhwan menganggap si akhwat sebagai saudara biasa, tapi ternyata si akhwat malah punya pandangan yang berbeda, begitupun sebaliknya. Yang lebih parah lagi nih, kalo orang-orang yang belum paham melihat hal itu, bisa-bisa mereka jadi illfeel sama ikhwan-akhwat. Atau terkadang, orang yang sudah paham pun malah menanggap hal yang nggak-nggak terjadi di antara interaksi itu, VMJ (Virus Merah Jambu), padahal mah tuh ikhwan dan tuh akhwat gak punya perasaan apa-apa, cuma sebatas saudara atau teman biasa. Mungkin ada benarnya juga kalo kita sebaiknya menjaga interaksi dengan lawan jenis, gak hanya berlaku terhadap ikhwan akhwat aja loh. Lebih baik menjaga bukan daripada terjadi fitnah?! Kalo mau curhat, ya utamakan sesama jenis dulu.

Nah, ada satu cerita yang menarik di sini.
Ada ikhwan, sebut saja Hendy yang curhat ke akhwat, sebut saja Mila, melalui SMS. Mereka beraktivitas dalam satu organisasi dan keduanya bisa di bilang aktivis dakwah.
Hendy: “Assalamu’alaikum. Mila, Ana merasa bersalah banget neh sama masalah yang kemarin. Itu semua gara-gara Ana. Ana tuh sampe gak bisa tidur mikirin masalah itu. Bawaannya grasak-grusuk mlulu.”
Mila gak langsung membalas sms itu. Dia meng-sms Leo yang memang dekat dengan Hendy.
Mila: “Assalamu’alaikum. Leo, tolong hibur Hendy ya, kayaknya dia masih kepikiran sama masalah yang kemarin.”
Mila meminta Leo untuk menghibur Hendy karena Mila tau bahwa Leo adalah teman dekat Hendy dan Leo tau masalah yang Hendy hadapi.
Leo: “Masalah yang mana? Ana barusan mabit bareng Hendy, tapi dia ga cerita apa-apa.”
Mila: “Masalah yang itu bla, bla, bla.”
Mila menjelaskan masalahnya.
Leo: “Ok. Nanti Ana coba ngomong ke Hendy.”

Memang begitulah seharusnya ketika ada seorang ikhwan ataupun akhwat yang curhat ke lawan jenisnya, maka tempat yang di curhatin itu seharusnya mengarahkan seseorang, ke sesama jenis, yang merupakan teman dekatnya sehingga si ikhwan ataupun akhwat bisa di tangani langsung tanpa lintas gender. Hal itu lebih menjaga bukan?!
Ada satu cerita lagi tentang ikhwan akhwat yang jarang sekali berinteraksi, namun ternyata keduanya sepertinya ‘klop’. Mereka menyadari hal itu. Si ikhwan punya perasaan sama akhwat, begitupun sebaliknya: masing-masing saling tahu, tanpa harus di nyatakan. Waktu terus berjalan, mereka pun saling memendam perasaan itu hingga akhir bangku perkuliahan usai. Hingga akhirnya, ada yang mengkhitbah si akhwat. Si akhwat pun meminta izin kepada si ikhwan (aneh!): betapa sakit hati si ikhwan begitu mengetahui si akhwat akan di khitbah ikhwan lain. Akhirnya, akhwat itu pun tetap melangsungkan pernikahan dan membiarkan si ikhwan dalam kesakithatiannya.
Duh, miris sekali ya. Padahal perasaan yang muncul di antara ikhwan akhwat itu tanpa interaksi yang intens.
Ok, yang terpenting adalah kita saling menasihati dengan cara yang terbaik. Kalau ikhwan yang melampaui batas kepada akhwat, akhwatnya harus tegas, demikian pula sebaliknya. Sesama ikhwan dan sesama akhwat juga harus ada yang saling mengingatkan dengan tegas. Ingat! tegas bukan berarti harus marah-marah karena kita tentunya tahu bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua manusia tak luput dari yang namanya khilaf. Jika memang mengaku bahwa kita bersaudara, maka ingatkanlah! Tegurlah! Jangan biarkan saudara kita terjerembab.
Terkait dengan cinta, sekali lagi diingatkan bahwa akhwat juga bisa jatuh cinta,, ikhwan juga bisa jatuh cinta. Se-ikhwah-ikhwahnya ikhwah, mereka juga manusia yang punya rasa cinta, kagum, suka, dan benci.

***
Cinta bukanlah tujuan
Cinta adalah sarana untuk menggapai tujuan
Jangan kau sibuk mencari definisi dan makna cinta
Namun kau lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta
Dzat yang menumbuhsuburkan rasa cinta
Dzat yang memberikan kekuatan cinta
Dzat yang paling layak dicintai Allah, Sang Pemilik Cinta
Cinta memang tak kenal warna
Cinta tak kenal baik buruk
Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah
Memang begitulah adanya
Karena yang mengenal baik buruk, warna dan rupa
Adalah sang pelaku cinta yang menggunakan akal pikirannya
Cinta bukanlah kata benda
Cinta adalah kata kerja
Cinta bukan sesuatu tanpa proses
Cinta itu butuh proses
Jangan mau kau terjatuh dalam cinta
Namun, bangunlah cinta itu
Bangunlah cinta dengan keimanan
Maka kau akan mengorbankan apa saja
Demi meraih keridhaan Sang Pemilik Cinta
Bangunlah cinta dengan ketakwaan
Maka kau tak kan gundah gulana
Ketika kehilangan cinta duniawi
Karna kau yakin Yang kau cari adalah cinta dan ridha Allah
Bukan cinta yang sementara
***
Semoga bermanfaat. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri yang sering lalai dalam menjaga interaksi. Entah itu di dunia nyata maupun dunia maya.
Saling mengingatkan ya…!

Selasa, 15 November 2011

Soe Hok Gie .... sekali lagi (by: memo)

"Lebih baik saya diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan".

"Saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin selalu mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi, juga ketidak-populeran. Ada sesuatu yang lebih besar: kebenaran". (Catatan Seorang Demonstran: 203)

Mahasiswa akan tetap menjadi kekuatan moral yang diandalkan, meski mereka adalah kekuatan anomi yang tidak memiliki struktur organisasi yang baku. Sebagai calon pemimpin bangsa masa depan, sesuai dengan slogan "Student now, Leader tomorrow," mahasiswa tampaknya akan tetap menyuarakan perbaikan nasib rakyat. Kata "Ampera" bukanlah slogan kosong yang tanpa makna; ia akan ada sepanjang zaman.

"Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian..."

"Di Indonesia hanya ada 2 pilihan: menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya".

Now I see the secret of the making of the best persons,
It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.
(puisi Walt Whitman, Song of the Open Road,230)

Tentang Kemerdekaan

Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan yang tak pernah berakhir,
kebetulan kau baris di muka dan aku di tengah
dan adik-adikku di belakang,
Tapi satu tugas kita semua,
Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis.
...
Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar
Kita adalah alat dari derap kemajuan semua;
Dan dalam berjuang, kemerdekaan begitu mesra berdegup
Seperti juga perjalanan di sisi penjara

Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan
Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang
dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kita adalah manusia merdeka.
dalam matinya kita semua adalah manusia terbebas.

[sebuah puisi dari Soe Hok Gie yang merupakan sebuah hasil perenungannya untuk terus berjuang tanpa kenal lelah dan tanpa takut resiko apapun]

Sabtu, 12 November 2011

Berkasih dalam Dakwah, Meretas Resah dalam Hati

Surabaya-13 November 2011. Minggu pagi yang penuh planning ide dan tugas. Berhasrat untuk mengikuti lomba disana-sini, apalagi di FB ada share info lomba yang sederet banyaknya. Lalu >>>>> getaran ponsel membuyarkan tarian jemariku dari atas keyboard laptop. Tertulis di awal pesan itu “Mbak maaf hari ini sepertinya gak jadi ikutan karena ada…”. Dalam hati sedikit lega karena schedule sedikit berkurang, dan ku torehkan pandanganku kea rah Time Schedule Wall di ruang mungilku. Oooh God rupanya belum ada cukup space untuk bersantai, masih banyak amanah yang menuntut untuk segera di selesaikan.
Kembali membuka notes kecil dari dalam tas yang ku bawa pada saat pertemuan kecil sabtu kemarin dan melihat banyak coretan-coretan kecil pengulang memori. Dalam bacaku Aku memanjatkan kalimat tasbihNYA “Ya Allah kalau memang tidak banyak orang yang peduli ini – kuatkan raga ini untuk tetap istiqomah menujuMU”
Sebenarnya seminggu ini justru karena terlalu konsen terhadap tugas malah mengurangi waktuku untuk bersosialisasi. Singkat cerita banyak hal penuh hikmah yang Aku lewati. Dimulai sejak jumat kemarin, dalam Reminder Wall sudah tertulis akan ada beberapa workshop, tutorial dan seminar yang harus ku hadiri tapi ternyata Calon Masterpiece-ku membuyarkan plan schedule-ku, termasuk kajian bersama Ustadz Salim A. Fillah. Ahhh..ternyata diri ini masih saja belum bisa mengutamakan prioritas. Sembari menyusun Calon Masterpiece-ku, iseng-iseng ku buka beberapa jejaring dakwah. Sempat terharu dan hampir menumpahkan sekelebat air dari pelupuk mata ketika melihat para ikhwan di video itu sedang ‘berdakwah’. Lembaga *** yang sekarang sedang ku ikuti juga, di video itu Aku melihatnya bisa dengan bebas berkarya, berkreasi dan berkontribusi.
Kembali jiwa ini menanyakan dalam hati.
“wahai jiwa rasa apakah yang sedang berkecamuk di dada ini?”
Sang jiwa menjawab dengan lirih…
“iri”
Akal pun seolah membenarkan jawaban kecil ini.
“Mengapa iri? Toh aku mempunyai banyak kerabat dan teman dekat. Aku bisa mandiri dengan semua pencapaianku dan banyak hal yang membuatku lebih dari mereka”.
Malaikat kecil pun mengiyakan dengan nada menggumam.
“Kamu bekerja tetapi Hatimu tidak menerima – Kamu bekerja tetapi Hatimu tidak mencinta – Kamu bekerja tetapi usahamu sia-sia – Kamu bekerja tetapi kamu tidak menikmati dan bahagia dengan pekerjaanmu, Ikhlaskah kamu bekerja?”
Seolah tidak terima dengan gumaman malaikat kecil, hati dan akal pun mulai ku ajak bekerja keras. Jawabannya masih kurang bisa ku terima, tapi inilah lenteranya:
“Dakwah bukan hanya tentang organisasi! Dakwah bukan hanya tentang posisi atau jabatan tapi jauh lebih berat daripada itu! Dakwah berilustrasi tentang kursi-kursi Kontribusi!”
***
            Organisasi dan Kontribusi. Dua kata ini sering sekali datang dan menghampiriku, mengajakku untuk lebih jauh bermain dengan mereka. Hingga akhirnya aku merasa nyaman dengan dua statement ini. Bercengkrama dan menjadikan mereka pilar hidupku. Lalu datang kata Dakwah yang belum lama ku kenal, bahkan asing untuk ku nikmati dengan sesosok diri yang lemah. Namun kata ini tak kenal lelah dan padam, ia terus saja menjerumuskan pribadi ini kedalamnya. Memberikan berjuta ekspresi dalam melukiskan pelangi jiwa sang pemilik diri. Memberikan beragam kenyamanan bagi sang pemilik diri. Sampai di sebuah masa, jiwa ini belajar untuk PeDeKaTe dengan sang kata yang berjumlah 6 huruf.
            Berawal dari lingkungan organisasi yang kondusif baginya; sang diri nampak mulai akrab dengan kata ini. Beberapa kawan dan kerabat sangat mendukung namun tak jarang pula yang tidak setuju. Ia pun memutuskan untuk memulai dengan niat positif dan menjadi lebih baik. Alhamdulillah langkah awal berajalan cukup mulus, walaupun sedikit melupakan beberapa hal penting (baca: ijin).
(to be continue..InsyaAllah akan segera di selesaikan)

Jumat, 11 November 2011

Bertelepati dengan Papa

Papa…

Malam ini adek mendengar lantunan Q.S. Luqman:13.
Teringat akan sosokmu sebagai penikmat surah ini.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Bagaimana kondisi kesehatanmu?
Adek harap papa dalam keadaan sehat dan dalam lindunganNYA

Sudah cukup lama adek tidak mencium tanganmu
Sudah cukup lama adek tidak mendengar suaramu
Seringkali dalam lamunan adek hadir wajahmu
Rasanya baru kemarin adek pamit pergi untuk belajar

Berat rasanya saat adek jauh dari papa
Sendiri dalam gulita malam, sendiri dalam jalan penuh kejahatan
Sendiri dalam kegelisahan, sendiri  dalam sesaknya metropolitan
Tidak ada sosok penjaga di dekat adek saat ini

Adek takut kehilangan kesempatan untuk berbakti padamu
Adek takut kehilangan peluang membalas budimu
Ingin rasanya berada di dekatmu selalu
Menyiapkan koran dan sarapan pagi
Menyeduh segelas teh melati untukmu
Bahkan menyiapkan pakaian rapi untuk kau kenakan.

Papa…

Gadismu kini bertumbuh dewasa
Sedih rasanya jika mengingatmu
Rambutmu semakin banyak yang memutih
Fisikmu semakin renta
Kulitmu kini nampak gelap dan keriput
Penglihatanmu semakin berkurang

Rinduku menjadi memuncak padamu
Ketika membayangkan engkau mengetuk pintu kamarku
Membangunkan ku saat kumandang adzan subuh
Tanganmu tidak segan mencubitku
Saat aku berusaha menutup telinga di subuh-subuh itu

Rinduku menjadi memuncak padamu
Ketika membayangkan engkau menemaniku mengambil wudhu
Menuntunku dengan sabar karena kantukku yang memuncah
Meninggikan nada suaramu
Saat aku berkilah menuju mushalla

Rinduku menjadi memuncak padamu
Ketika membayangkan engkau sedang bertafakur dimalam hari
Menangis dihadapan Allah
Menghabiskan sisa malam dengan mengadu kepada Allah
Mendoakan kami anak-anakmu
Papa…

Janganlah engkau berhenti menegurku
bahkan memarahiku saat Aku tidak menuruti perintah muliamu
Janganlah engkau lemahkan semangatmu
dalam memimpin bahtera keluargamu ini
menggapai keridhoan Allah

Masih ingatkah kau Papa?
Saat aku mulai belajar ilmu Tajwid
Ada berapa banyak kesalahan yang ku ucapkan..
Namun bimbinganmu sungguh tulus
tak peduli berapa kali lagi engkau harus mengulang

Papa…

Aku ingin engkau terus membimbingku
dengan tuturmu, lakumu dan semua tentangmu
Berapa banyak usianya telah kau korbankan?
Masih adakah engkau berkeinginan untuk menggapai kemewahan dunia
Semua ini akan sama-sama kita tinggalkan
Sudah siapkah engkau?
Dengan lima pertanyaan Munkar dan Nakir
Dan menghadapi alam kubur yang begitu luas
Dimana Sayyidina Ustman selalu menangis setiap malam
Dengan mengkhatamkan 30 juz Alquran
Karena takut tidak akan selamat 

Papa…

Aku sungguh mencintai dan menghormatimu
Tapi aku lebih mencintaimu
Ketika engkau habiskan waktumu untuk menebar kebaikan
dan bermanfaat bagi banyak orang

Genggam tanganku pa, saat Aku mulai tersihir ke arah yang salah
Tarik kuat tubuhku pa, saat Aku akan tergelincir ke dalam jurang kenistaan
Tahan langkahku pa, saat Aku akan melakukan banyak kemungkaran disana

Maafkan adek pa…
Bukan maksud adek memberi nasehat kepadamu
Bukan pula maksud adek mengajarimu
Tapi karena rasa cinta yang membuat adek mengirimkan telepati seperti ini
Karena jarak yang terlampau,
Tidak banyak hal yang mampu adek perbuat
Selain mengajakmu untuk bersama-sama lebih dekat kepadaNYA
Bantu adek dengan kekuatan doamu papa..
Sekian telepati untukmu
Salam hangat dari seberang lautan menapak ilmu
Dari putrimu yang penuh kekurangan dan kelemahan :*

Perhiasan Muslimah


Ad-dunya mata', khoirul mata' al mar'atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.

Fitrah wanita untuk cantik, merasa cantik, dan ingin cantik adalah karena wanita sholehah merupakan perhiasan dunia. Semoga kita dan wanita-wanita yang kita sayangi termasuk diantara. Amiin.. Wanita Sholehah juga bisa berhias dan menjadi muslimah cantik lhooo..

Berikut beberapa cara muslimah berhias supaya cantik:
1.   Bedaknya adalah air wudhu, muka yang dibasuh dengan air wudhu dengan berharap ridho Allah sebelum menghadap-Nya ketika sholat, dengan menundukkan hati memancarkan sinar di raut wajah muslimah.
2.   Matanya berhias ghodul bashar, menundukkan pandangan akan sesuatu yang bukan menjadi hak mata untuk melihat, menundukkan pandangan dari sesuatu yang dapat mengotori nafsu, menaikkan syahwat, menimbulkan prasangka buruk. Insya Alah mata ini akan memancarkan cahaya.
3.      Matanya merona karena hati yang syukur, mata adalah jendela hati. Pancaran hati yang penuh syukur menambah rona mata para muslimah.
4.     Perona pipinya adalah rasa malu, rasa malu identik dengan wanita. Malu melakukan hal-hal yang tidak seharusnya, dan menjaga dirinya senantiasa, tentu menambah cantiknya muslimah
5.      Lipstiknya adalah kejujuran & ucapan yg baik. Seorang muslimah yang cantik, tentu akan lebih cantik dengan tutur kata yang jujur dan baik.
6.     Pelembab bibirnya adalah dzikir dan lantunan quran, membasahai bibirnya dengan zikir senantiasa, dan melantunkan qur'an membuat bibir, pintu gerbang mulut kita terjaga dari hal yang buruk.
7.    Giwangnya yaitu pendengaran akan lantunan Al – Qur’an & nasihat yang baik, telinganya digunakan untuk mendengar yang baik.
8.   Kalungnya kelapangan dada, qanaah dan pemaaf, hati yang lapang akan memancarkan muka yang bersih.
9.      Gelangnya adalah shodaqoh , wanita-wanita di keluarga Nabi merupakan wanita ahli shodaqoh.
10.  Cincinnya ia slalu brusaha tunjukkan kebaikan, tidaklah menjadi cantik muslimah yang menunjukkan jalan yang tidak baik kepada orang lain
11.  Mahkotanya adalah jilbab sebagai penjagaan dirinya , dengan jilbab yang rapi, menutup auratnya, insya allah sebagai salah satu ikhtiar muslimah lebih terjaga
12.  Pakaiannya adalah pakaian taqwa pada RabbNya, maka muslimah akan tampak anggun berseri.
13.  Sepatu mahalnya adalah istiqomah di jalan kebenaran-Nya.

Semoga semakin banyak muslimah cantik agar semakin berseri bumi ini, agar lahir generasi penerus yang memajukan penjuru negeri.. Insya Allah...amiin


Sisi lain Hari Pahlawan, 10 November 2011


Kebayang gak sih..?? Jam 11.53 p.m, malem-malem udah ngantuk bahkan sudah hampir tertidur eh tiba-tiba ponsel berbunyi. Ada sms masuk, dari layar tertulis namanya Pres. Arif Fatchu. Kebayang jelas di benakku kalau ada info baru lagi terkait PSDM atau bahkan teguran dari presiden. Pas gue buka, kalimat awal sudah bisa gue tebak kalau ini ucapan 10 November. Langsung aja gue tutup ‘en gue tinggal tidur lagi. Subuhnya pas gue nge-check HP lagi, jempol gue berenti di message mas Arif. Gue baca sampai habis dan...

Bagi saya, Pahlawan adalah mereka yang mendengarkan, 
menuruti dan memperjuangkan kata hatinya. 
Berani berorientasi kamaslahatan umat,
 meski terkadang harus mengorbankan kepentingan pribadi.
Kepahlawanan ada dalam setiap hati kita.
Pahlawan adalah kita. 
Jangan lelah memberi, jangan bosan menginspirasi. 
Selamat memperingati harimu, Pahlawan…"

…terharu :’( berasa dapat sms lebih dari sekedar motivasi. Yaah alhasil inilah moment 10 November berkesan di Kota Pahlawan. Setelah beberapa kali merasakan hari Pahlawan di Surabaya, akhirnya hari ini gue bisa melihat arti kata Pahlawan dengan taste yang berbeda.
Selamat  Hari Pahlawan.. Selamat Dies Natalis almamaterku..

Kamis, 10 November 2011

Perlengkapan Amunisi Da'i

Pagi itu, termasuk pagi yang hening di Surabaya. Tetesan embun sisa hujan tadi malam tidak mengikat langkahku untuk ogah-ogahan membelah sisa-sisa banjir di pinggir jalan. Dingin menyelinap merasuki sekujur tubuh. Berbekal sebuah pesan yang ku terima tadi malam via pesan singkat di ponsel ku berisi alamat sebuah rumah seorang akhwat. Seorang senior memintaku untuk silaturrahmi ke huniannya. Ku penuhi permintaannya dengan beberapa alasan. Ternyata rumah yang ku datangi ini adalah rumah seorang akhwat alumni ADK. Sesampainya di rumah beliau, akhirnya Aku tahu niatan dari seniorku.
Ia memberi tausiyah sebelum memulai “lingkaran” lalu, beberapa calon jundinya yang lain turut mendengarkan dengan kepala tertunduk dan penuh perhatian, seolah menegaskan dan beriltizam dalam hati “suatu saat Aku ingin seperti akhwat di hadapanku ini”. (Amin yaa Rabb)

Inilah tausiyah pembukanya;
Amunisi Da'i adalah Ruhiyah...
Para Sahabat tidak pernah berperang dengan perut kenyang!
Bila Ruhiyah antum tidak beres, amanah pun akan tidak beres...!

Kenapa ruhiyah fluktuatif?
1.       Karena ketika kita menghadapi musuh, masih ada dunia dalam hati kita.
Kalau QIYADAH banyak berbuat MAKRUH, maka JUNDInya akan berbuat HARAM.
Jika antuna banyak berbuat hal-hal yang MAKRUH, maka TARUHANNYA adalah DAKWAH yang sedang antum lakukan.

2.       Karena kita sering berPURA-PURA.
Kita bisa melihat begitu KHUSYUKnya para sahabat, dan betapa PURA-PURAnya kita... itulah penyebab turunnya ruhiyah, BERPURA-PURA.

3.     Karena kita sering BERDAMAI dengan DIRI SENDIRI. Sering mengikuti hawa nafsu dan syahwat diri sendiri.
Ketika kita sudah tersibghoh oleh ISLAM, tidak hanya FISIK kita yang berubah, tapi juga HATI.
Dakwah tidak bisa berjalan dengan baik bila Da'inya mencampuradukkan amanahnya dengan ego-nya,  maka bersabarlah atas ulah Saudara antum.

4.      Karena kesabaran yang lemah
Bila ada seorang Da'i yang ingin segera menuai hasil, maka pergi saja.
DAKWAH itu. “LAMA  dan  MELELAHKAN”

Para Sahabat berperang bukan mencari Kemenangan, tapi mencari kematian. Hal itulah yang membawa mereka pada kemenangan. Mereka berkata pada musuh-musuh Allah, "Kalian berhadapan dengan orang-orang yang mencari kematian, sedangkan kalian mencari kehidupan, maka dapat dipastikan siapa yang menang..."

Kini beberapa gadis kecil disekitarnya pun tertunduk lebih dalam lagi seraya berkaca pada dirinya sendiri. Ingin menangis dan berteriak “Aku tidak KUAT lagi”. Tausiyah ini benar-benar menamparku. Diriku jauh sekali dari kondisi ini. Semuanya tidak relevan, berbeda denganku.

(lalu mulai berfikir…)

Perutku selalu kenyang, tidak pernah kekurangan makan. Kalaupun sudah makan, terkadang masih ditambah camilan dan jajanan lainnya.
Ruhiyahku tidak beres. Dalam memenuhi amanah dari qiyadah, aku selalu berusaha yang terbaik, memberikan totalitas, berusaha disiplin. Tapi mungkinkah ini tanda-tanda ke-tidak ikhlas-an ku, karena aku tidak se-total itu dalam memenuhi perintah Allah dan sunnah Rasulullah. Berkali-kali aku selalu ijin bila terlambat syuro, tapi jarang menyesal ketika tidak sholat tepat waktu atau ketika melewati malam tanpa qiyamul lail, pagi tanpa dhuha dan siang tanpa dzikir.
Kalau Qiyadah berbuat makruh, maka jundi berbuat haram. Kalau aku, berbuat haram? lalu bagaimana dengan calon jundiku kelak? Padahal taruhannya adalah dakwah yang pernah ku ikrarkan di sana.
Ketika aku berhadapan dengan musuh, apakah murni ikhlas karena Allah?? ataukah karena ingin disebut sebagai mujahidah?? ataukah merasa bangga ketika menorehkan prestasi-prestasi dalam dakwah?? Ketika aku berhadapan dengan musuh, masih ada illah yang lain dalam hatiku,masih ada dunia dalam hatiku.
Lagipula Aku sering berdamai dengan diriku sendiri... aku sering mengikuti kesenangan-kesenangan hawa nafsuku... menonton tv, tidur, mendengarkan musik, shopping dan segala aktivitas yang membuatku longgar.
Ketika sudah tersibghoh dengan Islam, FISIKku memang berubah, tapi apakah HATIku telah berubah...?
Dakwah tidak bisa berjalan dengan baik jika da'inya mencampuradukkan antara ego dengan amanahnya... Para sahabat berperang mencari mati... aku berperang saja belum pernah, terluka saja belum pernah, bagaimana mencari mati...?
Dakwah itu LAMA dan MELELAHKAN... ya, lama dan melelahkan, lama dan melelahkan... lama dan melelahkan, itulah tabiatnya, kalau aku tidak merasakan lama dan melelahkan, mungkin aku kesasar... lama dan melelahkan, terutama dalam mentarbiyah diriku ini...

MUALLAF itu adalah seorang wanita yang ku panggil Bunda...!

Parasnya cantik, kulitnya putih bersinar, Irisnya matanya laksana permata kecokelatan, mahkota kepalanya laksana sutera yang halus, hitam dan berkilau. Gadis kecil nan jelita itu kini memasuki usia ke-Ibuannya (44 thn). Ia menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa terpencil di bawah kaki gunung Soputan, Molompar - Sulawesi Utara. Hidup bersama lima orang keluarga beserta Ayah dan Ibunya. Masa kecil nan menyenangkan, Ia habiskan untuk membantu Ayahanda tercinta dalam menggembalakan sapi dan mengurus ladang keluarga. Aktivitas ini terus-menerus Ia lakukan hingga usianya beranjak remaja dan dewasa. Sang gadis adalah aktivis gereja Protestan di kampung halamannya. Berulang kali Ia mewakili gerejanya dalam beberapa kompetisi-kompetisi unggulan pemuda-pemudi gereja. Sifatnya yang ramah, periang dan pekerja keras menjadi lirikan pendeta dan pengurus gereja yang pada saat itu mengadakan pemilihan Persekutuan Remaja Berbakat. Sejak saat itulah sang gadis nampak disegani oleh kawan-kawannya, penduduk sekitar lingkungan dan desa tetangga. Namun hal ini tidak menjadikan sang gadis lupa diri, Ia tetap membumi bersama teman-teman sebayanya. Hingga pada suatu saat sang gadis mulai beranjak dewasa, Ia menamatkan bangku SMAnya di usia yang cukup belia.
Bermodalkan keyakinan dan keberanian besar, setelah lulus dari bangku SMA Ia mencoba untuk mengadu nasib di Kota Manado. Alhasil, 6 bulan di Kota Manado Ia manfaatkan mengisi hari-harinya dengan bekerja dan menimba keterampilan dengan kursus menjahit dan kursus membuat kue. Merasa tidak cukup nyaman dengan kehidupan di Kota, akhirnya Ia putuskan untuk berhenti bekerja dan kembali ke kampung halamannya di desa. Di lingkungan tempat tinggalnya, sang gadis di kenal sebagai gadis yang cantik dan periang. Tidak heran jika banyak pemuda yang jatuh hati padanya. Dengan kembalinya Ia ke rumah membuat Ia semakin rajin menata rohaninya (baca: aktivis gereja). Akhir pekannya Ia pergunakan untuk pelayanan umat di gereja, mengajarkan sekolah minggu dan banyak aktivitas lainnya.
                                                            ***
Berita dari seorang sepupu yang berada di luar Pulau Sulawesi membuyarkan lamunannya untuk berlama-lama menetap di rumah. Sang gadis pun meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk mengunjungi sepupunya di Balikpapan. Baginya terasa berat ketika harus meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang cukup lama terlebih lagi ketika harus meninggalkan pelayanan rutinnya. Namun iming-iming pekerjaan dari sang kakak membuatnya risih dan ingin segera bergegas menyusul. Salam perpisahan dengan keluarga dan kerabat menjadi penanda baginya untuk mengawali perjuangan hidup di Kota perantauan.
                                                            ***
BALIKPAPAN. Di kota inilah terulas kisah kehidupan lajang hingga rumah tangganya. Di kota ini pulalah Ia berjuang hidup dan bekerja untuk melanjutkan kehidupannya. Mengawali pekerjaannya dengan melamar pekerjaan sebagai karyawan departemen store hingga beberapa tawaran model mampir di kehidupannya. Tak ada satupun tawaran model yang diterimanya, Ia hanya memilih untuk menjadi karyawan sebuah perusahaan pada saat itu. Hingga di tahun keduanya Ia berada di Balikpapan, sang gadis jatuh hati pada seorang pemuda perantauan. Berkenalan dengan status berteman untuk beberapa bulan dan akhirnya membina hubungan “lebih dari sahabat”. Tak disangka status hubungan ini mampir ke telinga sang Ayah di Manado. Sikap dan ekspresi tidak setuju dengan hubungan anaknya bersama pemuda menjadi alih-alih sang Ayah memanggil sang putri kembali pulang ke rumah. Ternyata sang pemuda adalah pemuda muslim asal Tanah Jawa yang merantau ke Balikpapan. Hubungan antara sang gadis dan pemuda itu berlanjut tanpa persetujuan keluarga di kedua belah pihak hingga di tahun kelima sang gadis menetap di Balikpapan.
***
Sang pemuda adalah pemuda desa yang jujur dan memiliki ekspektasi besar untuk sukses di perantauan. Menamatkan sekolahnya di sebuah MAN lalu bekerja ke luar kota meninggalkan sanak keluarga. Sang pemuda besar di lingkungan keluarga yang agamis dan disiplin waktu. Jiwa mudanya memberontak untuk berlama-lama di rumah setelah lulus sekolah, karena merasa menjadi panutan ke-tiga adiknya yang lain.
                                                            ***
BALIKPAPAN. Lagi-lagi kota inilah yang menjadi tempat pertemuan dua insan muda ini. Memaknai hidup dengan kesamaan nasib akhirnya di tahun kelima sang gadis berada di kota ini, sang pemuda melamarnya untuk menjadi pendamping hidup. Hari itu, hanya dukungan teman, kerabat dan boss tempat mereka bekerja saja yang tampak. Tidak ada support dari keluarga kedua calon mempelai. Lambat laun, sang gadis mulai memikirkan jurang kepercayaan diantara mereka. Ia menginginkan hidup bersama pemuda itu tapi Ia tidak rela jika harus melepas kepercayaannya. Menjelang pernikahan, konsultasi dengan beberapa kerabat dekat mulai digencarkan. Hasilnya sama dari hari ke hari, tidak ada KUA yang melayani pernikahan berbeda agama.
Dilema tak kunjung usai, hari pernikahan mendekati batas tanggal yang di sepakati. Akhirnya melalui beberapa kali pembicaraan, sang gadis luluh untuk mengikuti agama calon suami. Pagi itu, prosesi pernikahan berlangsung khidmat diawali dengan ikrar dua kalimat syahadat dari bibir Sang gadis … (subhanallah Bundaku berISLam, terlahirlah engkau seperti seorang bayi tanpa dosa bunda!!). Tidak ada perwakilan dari keluarga pria dan wanita yang turut mendampingi. Pernikahan di lakukan dengan wali keluarga angkat si gadis. Banyak mata berdecak kagum dengan pernikahan ini.
Belum ada kalimat restu terlontar dari lubuk hati Ayah sang gadis. Hingga akhir hari menakjubkan itu usai. Hati sang ayah cukup tesayat-sayat ketika melihat kenyataan putrinya berpindah kepercayaan. Putri kesayangan yang selalu membantunya.
Keluarga kecil itu harmonis walaupun dengan beberapa kebiasaan yang kurang enak dipandang. Sang istri yang telah berislam, tidak sepenuhnya melaksanakan komitmen dari kalimat syahadat yang Ia ucapkan. Hingga akhirnya keluarga kecil ini di karuniai seorang anak perempuan (hhmmm..akuu). Mendengar kabar ini, keluarga sang istri yang memang sudah lama menunggu kehadiran cucu turut merespon dengan kebahagiaan. Seolah hilang sudah perasaan marah yang selama ini bersemayam di hati sang Ayah (Alhamdulillah yaa). Sungguh luar biasa ketika mendengar kelahiran cucu keduanya, Ibunda sang istri bermaksud untuk mengunjungi anaknya di Balikpapan. (Inilah keajaiban sabar). Hal ini Ia lakukan sebagai bukti kasih sayang seorang Ibu yang abadi. Walau beberapa penyakit hati masih bermuara di dadanya tetapi kontak batin antar Ibu dan anak tidak bisa di lepaskan.
Hingga saat ini, wanita itu memang masih belum melaksanakan rukun Islam dan Iman sepenuhnya tetapi kesabaran sang suami dan kehadiran anak-anaknya mampu membuat Ia tetap bertahan dalam dekapan ISLAM ini. Dialah Ibuku, orang selalu yakin dengan usaha dan kerja kerasnya, yang selalu mendoakan anak-anaknya untuk lebih baik daripada dirinya, yang terus memberi semangat kepada anak-anaknya dengan cara-caranya yang tak terduga, yang tak pernah henti-hentinya berdoa untuk memberi makan anak-anaknya dengan hasil yang halal.
MUALLAF itu adalah seorang wanita yang ku panggil dengan sebutan BUNDA…!! Cerita yang selalu haru ketika aku mengulang memori ini untuk ku jadikan ladang muhasabbah diri. Bagaimana jadinya kalau kala itu Ibuku belum berISLAM dan melahirkan aku dalam keadaan nasrani?? dear ALLAH..IMAN dan ISLAMmu adalah anugerah yang terbesar dalam kehidupanku. Sampai mati. Bundaku – surgaku, ku ingin kita bersama-sama lebih mendekat lagi padaNYA – bersamaku-papa-bunda dan adik. Jadikanlah kami manusia-manusia pilihanmu ya Rabb.