Minggu, 04 Maret 2012

Renungan di Penghujung 2011, Capt...!


Desember dua ribu sebelas lalu ku lewati dengan suasana hati yang agak mengecewakan. Entah bagaimana bisa Ia kusebut kecewa, seharusnya aku legowo. Toh, itu sudah menjadi pilihan publik. Tetapi tetap saja, di dalam relung hati ini masih menyimpan harapan-harapan cahaya itu.
Selasa, dua puluh desember yang seharusnya adalah schedule pemira harus di tunda hingga 1 x 24 jam karena beberapa pihak yang tidak setuju dengan keputusan awal. Well, mungkin inilah ketidakdewasaan pemegang kuasa (mahasiswa) FIB dalam berpolitik. Bahkan aku sempat berkali-kali tidak habis pikir mengapa ada dua calon tambahan yang jelas-jelas gagal administrasi di awal pendaftaran. Setelah dikonfirmasi dengan pengambil keputusan yang seharusnya, pernyataan yang keluar adalah “Sudah, tak apa bertambah. Daripada banyak yang protes, kita disini kan mengutamakan kekeluargaan. Kalau tidak dituruti mereka malah …………..”.  
Lalu ku sunggingkan senyum pahit untuk diriku. Aku memang bukan orang hukum, yang mengerti dan paham tentang peraturan ini dan itu. Tapi keputusan ini menurut ku janggal. Entahlah apa yang ada dibenak mereka. Hanya istighfar yang bisa kedendangkan untuk mengantisipasi amarahku pada saat itu. Astaghfirullah, hanya karena hal ini aku bisa se-emosional ini.
Rabu, dua puluh satu desember. Aku mengurungkan niat untuk mendatangi janji di sebuah tempat pagi itu. Bukan karena lupa ataupun terlambat bangun. Tapi memang aku tidak siap berhadapan dengan kecacatan-kecacatan yang menyeruak. Dua puluh satu desember merupakan ajang debat caket. Lima orang caket beradu di meja debat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada saat itu. Yah, sudah ku duga pertanyaan yang terlontar dari tim penanya tidak jauh-jauh dari konsep nasionalisme. Nampaknya aku mulai bisa membaca hal itu sejak beberapa saat lalu. Okay, mainkan saja strategimu..!!! Politik adalah kerja keras. Untuk membawa sebuah perubahan sekedar ide saja tak cukup, diperlukan jejaring yang kuat, pemetaan yg jelas, dukungan publik luas, kerja-kerja tim yang solid yang secara kolektif sangat vital dalam perjuangan politik, disisi lain kesadaran ideologis dan keseimbangan secara egalitarian dalam tim untuk saling mengontrol dan membantu satu sama lain. Inilah ekuitas utama perjuangan.
Kamis, dua puluh satu desember. Inilah kali pertama aku benar-benar memberatkan langkahku menuju kampus. Selain karena deadline pengumpulan tugas, juga karena pencoblosan memang akan dilakukan di tanggal ini. Masalah tugas, ternyata hanya alibiku. Sejujurnya hari ini mataku benar-benar sembab, bengkak dan terlukis lingkaran hitam di sekitar kantung mata. Jika hingga hari ini TPF masih berpikir tentang mobilisasi, mungkin kurang tepat kawan, Doktrinasi dan mobilisasi bukan strategi terbaik dalam perjalanan juang keumatan, dibutuhkan kesadaran otentik bersama. Perbaikan pengkaderan dalam jamaah sebagai persiapan momentum juang.
Masih di hari ini, kamis dua puluh satu desember…! Jarum jam menunjukkan pukul 17.13 sore. Tampaknya sore hingga malam nanti, situasi FIB akan ramai. Benar saja, hari ini masih dalam suasana Festival Budaya FIB sekaligus penghitungan suara pemira kali ini. Hufttt Allah…sungguh di kala itu aku benar-benar ingin menjadi dinding di sekitar bilik suara. Trust me, wish YOUR miracle. Hingga pada akhirnya, 22.39 WIB dari layar ponselku tertera pesan “Barakallah…susah ternyata menembus siyasi FIB ………….. terpaut 42 suara dengan calon nomor 4”
Allahu Akbar :’( …maaf Allah, tangis ku tak terbendung saat itu. Maaf jika ENGKAU cemburu pada saat itu. Sedihku mungkin berlebihan, tapi ini telah kami persiapkan sejak Oktober lalu (penandatanganan SK Rektor) bahkan sejak April lalu tapi mengapa mereka tidak serius dalam follow up-nya…?? Andai mereka sedikit saja lebih peka ataupun membuka komunikasi dengan kami.
Hari ini empat maret dua ribu dua belas, lagi-lagi berhadapan dengan kondisi yang sebelas-dua belas dengan masa lalu itu. Kembali merenung saat mengingat perjalanan menuju 2012. Setidaknya inilah hikmah yg ku dapat. 
  1.  Politik yg dikerjakan dalam suasana kondusif akan menjadikan pelajaran berharga, bagi siapa yang kalah dan siapa yang menang. Jadi sistem politik harus dibuat untuk mampu menjembatani kondusifitas bukan konflik.
  2.  Tentang kampanye. Uang tidak ada artinya dibandingkan semangat, karena perlawanan yang mengandalkan materi dan huru hara terbukti selalu gagal meruntuhkan kekuatan yg dibangun dari mobilisasi massa yg ikhlas.
  3.  Tidak adanya komunikasi intens membuat kerja-kerja ini serasa tak nyata.
Well, so far...I wish the best for whomever the next leader…'


Tenang itu saat semua amanah & perjuangan telah dipergilirkan dan jelas siapa yg akan melanjutkannya. Semoga Allah menjaga kalian semua.

Firman Hujan

Sekiranya kita simpan hujan
Tak ada jua yang melarang
Pun kusimpan senyummu
Masihkah ada yang berang

Hujan berfirman pada basah tanah angin mendesah
Jatuh cinta adalah ibadah yang sempurna
Disana ada malaikat yang berdoa
dengan rekah senyum Tuhan di kursinya

Hujan pun bersabda
Jatuh rindu itu, sengatan listrik yang menggelikan
Tak peduli sesaknya dada, apalagi senyum yang tak diundang
dengan tangan mendekap, denyut di dada

manalagi yang kau dustakan
maha benar hujan yang mengingatkanku padamu

rintik hujan mengetuk jendela
dan tengoklah drama gemuruh
dapatkah kau lihat manusia berpayung itu?



repost from oase.kompas.com via @ijonkmuhammad
Penulis lahir 25 Mei 1989,tinggal di depok. Saat ini kuliah di program studi Sastra Indonesia FIB UI.
Menghiasi puisi dalam hidupnya sebagai Wakil Ketua BEM UI 2011

Sabtu, 03 Maret 2012

PENGGENGGAM HATI

Aku terdiam dalam kebisuan yang tak berujung
Hingga hening mengawasi rengkuhan tubuhku
Semilir angin merajuk anggun,
berharap melukis senyum dalam penat.

Robb-ku…
Aku sadar KAU mendengar batinku
Aku sadar KAU mengawasi aku
dan AKU juga sadar jika KAU selalu menjagaku
kemarin - hari ini - esok, dan hari-hari selanjutnya..

Robb-ku
Bahkan KAU lebih tahu suara-suara lirih relung hatiku
KAU bahkan lebih paham semua tentangku
Ikhlasku, Kerjaku, Doaku..
Semua…
dan tak ada yang bisa luput dariMu

Tak pernah ku pungkiri,
tanganMu selalu bekerja
bahkan itu lebih cepat daripada permintaanku

Duhai Sang Maha Penggenggam Hati
Belas ampun ku panjatkan padaMu
Bila hingga saat ini,
Aku hanya bisa mencintaimu dengan sederhana

Yaa Robb…
Jagalah Hati ini.. Jiwa ini.. Raga ini..
Jagalah mereka dari hal-hal yang KAU benci,
Yang hanya akan berakar dusta dan berbuah dosa

KAU yang lebih tahu pemilik jiwa ini
Engkau pula yang paling pencemburu,
Jika dihatiku, tidak kusediakan tempat tertinggi untukMu

Bersihkanlah hati ini
Dari hal-hal yang membuatku jauh padaMu
Dari duniawi yang acapkali membuatku terlena

Robbi..
Asal KAU mencintaiku,
Maka aku akan tenang
Maka aku akan tegar
dan aku akan sabar

Aku titipkan hatiku padaMu
Hingga KAU mempertemukan aku dengan pemilik tulang rusuk
yang KAU tuliskan dalam Lauh Mahfudzh skenarioMu

Aku titipkan hati keluargaku padaMu
Hingga KAU persatukan kami dalam bahtera rahmatmu

Aku titipkan hati para binaanku padaMu
Hingga KAU merekatkan hati-hati kami dalam majelis ilmuMu

Aku titipkan hati saudara-saudara dakwahku
Hingga kami istiqomah dalam tarbiyahMu

Aku titipkan hati kawan-kawanku
Hingga KAU menyambung kasih yang abadi antara kami

Kutitipkan semua padaMu yaa Robb
Karena aku lemah
Karena kerja Hati bukanlah sesuatu yang konsisten
Karena HATI kami hanya milikMu
Yang selalu berada dalam genggamanMu