Tak ada jua yang melarang
Pun kusimpan senyummu
Masihkah ada yang berang
Hujan berfirman pada basah tanah angin mendesah
Jatuh cinta adalah ibadah yang sempurna
Disana ada malaikat yang berdoa
dengan rekah senyum Tuhan di kursinya
Hujan pun bersabda
Jatuh rindu itu, sengatan listrik yang menggelikan
Tak peduli sesaknya dada, apalagi senyum yang tak diundang
dengan tangan mendekap, denyut di dada
manalagi yang kau dustakan
maha benar hujan yang mengingatkanku padamu
rintik hujan mengetuk jendela
dan tengoklah drama gemuruh
dapatkah kau lihat manusia berpayung itu?
repost from oase.kompas.com via @ijonkmuhammad
Penulis lahir 25 Mei 1989,tinggal di depok. Saat ini kuliah di program studi Sastra Indonesia FIB UI.
Menghiasi puisi dalam hidupnya sebagai Wakil Ketua BEM UI 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar