Sabtu, 22:40 ( ∞ ∞ ∞ ) getaran ponsel mebuyarkan pandanganku dari paragraf –paragraf hitam fathi yakan, tertulis disana “gladys, besok ikut ikut ke Tulungagung? Ada undangan pernikahannya presiden BEM UB … dan bla,,bla,,bla”
Sontak akupun agak sedikit kaget saat nama yang tertulis PresBEM UB, uuppsss bukan karena apa-apa. Tetapi setahuku beliau menikah pagi hari tadi dan tepatnya di banyuwangi bukan di Tulungagung. Baru saja ingin membalas, teman disebelahku mengkonfirmasi kalau nama yang tertera disitu salah, yang benar adalah kawan dari manajemen dengan inisial “Y” di Tulungagung.
Sembari mengetik pesan balasannya, mataku tertoreh pada schedule harian di dinding kamar…dan aarrgghhhh padahal aku sudah menulis 3 huruf yang menyatakan turut serta. Tapi...tulisan mungil itu nampaknya lebih berarti buatku. Jadi teringat pesan pak Andre wongso “Jika kamu keras pada hidupmu, maka hidup akan lunak kepadamu, jika kamu lunak pada hidupmu, maka hidup akan keras kepadamu”.
Okay..malam ini, mantap sudah niatku untuk tidak ikut ke acara walimahan yang nun jauh disana. Sempat pula ku titipkan salam fun weekend at Karanggongso beach.
Minggu, 07:48 ( ∞ ∞ ∞ ) “Ralat: pertemuan kita diganti jam 8.30” (tertanda –eMeR)
Minggu, 07:48 ( ∞ ∞ ∞ ) “Ralat: pertemuan kita diganti jam 8.30” (tertanda –eMeR)
-- Play off my mp3 –
Surabaya masih dengan suasana langit samar-samar untuk menampakkan senyum birunya. Begitupun suara hati gadis ini yang masih plin-plan untuk stay di Surabaya hari ini. Berkali-kali ku mantapkan hati dan ku gerakkan langkah kaki ini menuju mihrabnya, namun berkali-kali pula visualisasi keceriaan itu hadir dan membuyarkannya. Astaghfirullahaladzhim..
Dengan langkah-langkah kecil dan senyum yang coba ku rekahkan, akhirnya sampailah aku di pelataran rumahNYA. Dalam hati ku sematkan doa Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatiika. Dirimu yang jauh disana, ku ingat pesanmu ini "AlQolbu Qolaba"' pada dasarnya hati bukanlah sesuatu yang konsisten kecuali yang selalu mendapatkan Cahaya dan Hidayah-Nya.
Aktivitas di hari minggu, ku awali dari lingkaran ini. Masih dalam suasana hati yang ku paksakan untuk settle disini. Sesekali melirik ke arah eMeR dan ke layar ponsel. Mencuri-curi pandang pada lalu lalang mobil yang melintas, berharap jarum jam bergerak tanpa jeda dan semakin cepat. Melihat gerak-gerikku ternyata sang eMeR cukup peka karena melontarkan beberapa pertanyaan padaku. “Stuck” dan bibir ini membeku “I can’t answer your question” (Robbi..pasti ia kecewa padaku..afwan mbak).
Stay cool. Menengadahkan kepala seraya memanjatkan permohonan (semoga ada segenggam mutiara untukku wahai Sang Maha penggenggam hati). Well..! dengan sekejap Ia menjawab pintaku. Dari sisi kiri, samar-samar kudengar lantunan-lantunan mutiara itu. Perlahan mulai ku tundukkan kepala ku dalam-dalam untuk mendengar lebih jelas. Dan inilah mutiara-mutiaraku hari ini:
Kata salah seorang murrabi
Kalau antum merasa jalan dakwah ini begitu sulit, maka jangan minta dimudahkan, tapi mintalah untuk dikuatkan. Karena sudah sunatullah bahwa berjuang di jalan Allah itu begitu terjal.
Kalau antum merasa kecewa, sakit, atau lelah maka rasakanlah itu benar-benar, karena bila antum tidak merasa sakit, atau tidak merasa sulit, maka dapat dipastikan bahwa antum berada di jalan yang salah.
(tertampar…dan semakin tertampar lagi dengan kata-kata selanjutnya)
Sudah pernahkan antum terluka? Pernahkah mengorbankan setetes darah?
Kalau belum, lalu kenapa sudah bangga dengan predikat sebagai aktivis dakwah?
Padahal kita belum melakukan apa-apa.
(mewek)
Padahal mengaku berjihad, mengaku ingin mati syahid, tapi kecewa atau sakit hati sedikit saja sudah mengeluh.
Mengaku aktivis dakwah tapi maksiat pun jalan terus. (cry and smile with tears..)
Mengaku rajin syuro untuk menyusun strategi dakwah, tapi ternyata niat melenceng untuk bertemu dengan akhwat atau ikhwan idaman.
Mengaku Da’i, tapi tidak menyeru.
Da’i itu menyeru, berapa kali dalam sehari antum menyeru?
(nggak bisa jawab, malah tambah nangis meledak-ledak)
Kalau antum merasa jalan dakwah itu panjang, sulit dan sakit, maka bersabarlah.
Teruslah berjalan meski tertatih.
Kalau antum jarang pulang, dan antum rindu untuk pulang, maka tahanlah rindu itu.
Rindu untuk memeluk Ibu atau untuk melihat senyum Ayah mengembang.
Karena sesungguhnya tempat berkumpul dan kampung halaman adalah surga.
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? (QS. At Taubah : 111)
(sunnguh jiwa ini masih jauh dari ini semua)
Robb-ku hari ini aku tidak saja mendapat segenggam mutiara yang ku inginkan, tapi semangkuk mutiara bahkan lebih dari itu. Tanganmu bekerja jauh sebelum aku memanjatakan pintaku. Astaghfirullah..diri ini begitu lemah untuk lebih peka pada nikmatMu.
Dear Allah..Maaf, jika Aku mencintaiMu dengan caraku yang sederhana…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar