Pagi itu, termasuk pagi yang hening di Surabaya. Tetesan embun sisa hujan tadi malam tidak mengikat langkahku untuk ogah-ogahan membelah sisa-sisa banjir di pinggir jalan. Dingin menyelinap merasuki sekujur tubuh. Berbekal sebuah pesan yang ku terima tadi malam via pesan singkat di ponsel ku berisi alamat sebuah rumah seorang akhwat. Seorang senior memintaku untuk silaturrahmi ke huniannya. Ku penuhi permintaannya dengan beberapa alasan. Ternyata rumah yang ku datangi ini adalah rumah seorang akhwat alumni ADK. Sesampainya di rumah beliau, akhirnya Aku tahu niatan dari seniorku.
Ia memberi tausiyah sebelum memulai “lingkaran” lalu, beberapa calon jundinya yang lain turut mendengarkan dengan kepala tertunduk dan penuh perhatian, seolah menegaskan dan beriltizam dalam hati “suatu saat Aku ingin seperti akhwat di hadapanku ini”. (Amin yaa Rabb)
Inilah tausiyah pembukanya;
Amunisi Da'i adalah Ruhiyah...
Para Sahabat tidak pernah berperang dengan perut kenyang!
Bila Ruhiyah antum tidak beres, amanah pun akan tidak beres...!
Kenapa ruhiyah fluktuatif?
Para Sahabat tidak pernah berperang dengan perut kenyang!
Bila Ruhiyah antum tidak beres, amanah pun akan tidak beres...!
Kenapa ruhiyah fluktuatif?
1. Karena ketika kita menghadapi musuh, masih ada dunia dalam hati kita.
Kalau QIYADAH banyak berbuat MAKRUH, maka JUNDInya akan berbuat HARAM.
Jika antuna banyak berbuat hal-hal yang MAKRUH, maka TARUHANNYA adalah DAKWAH yang sedang antum lakukan.
2. Karena kita sering berPURA-PURA.
Kita bisa melihat begitu KHUSYUKnya para sahabat, dan betapa PURA-PURAnya kita... itulah penyebab turunnya ruhiyah, BERPURA-PURA.
3. Karena kita sering BERDAMAI dengan DIRI SENDIRI. Sering mengikuti hawa nafsu dan syahwat diri sendiri.
Ketika kita sudah tersibghoh oleh ISLAM, tidak hanya FISIK kita yang berubah, tapi juga HATI.
Dakwah tidak bisa berjalan dengan baik bila Da'inya mencampuradukkan amanahnya dengan ego-nya, maka bersabarlah atas ulah Saudara antum.
Dakwah tidak bisa berjalan dengan baik bila Da'inya mencampuradukkan amanahnya dengan ego-nya, maka bersabarlah atas ulah Saudara antum.
4. Karena kesabaran yang lemah
Bila ada seorang Da'i yang ingin segera menuai hasil, maka pergi saja.
DAKWAH itu. “LAMA dan MELELAHKAN”
Para Sahabat berperang bukan mencari Kemenangan, tapi mencari kematian. Hal itulah yang membawa mereka pada kemenangan. Mereka berkata pada musuh-musuh Allah, "Kalian berhadapan dengan orang-orang yang mencari kematian, sedangkan kalian mencari kehidupan, maka dapat dipastikan siapa yang menang..."
Para Sahabat berperang bukan mencari Kemenangan, tapi mencari kematian. Hal itulah yang membawa mereka pada kemenangan. Mereka berkata pada musuh-musuh Allah, "Kalian berhadapan dengan orang-orang yang mencari kematian, sedangkan kalian mencari kehidupan, maka dapat dipastikan siapa yang menang..."
Kini beberapa gadis kecil disekitarnya pun tertunduk lebih dalam lagi seraya berkaca pada dirinya sendiri. Ingin menangis dan berteriak “Aku tidak KUAT lagi”. Tausiyah ini benar-benar menamparku. Diriku jauh sekali dari kondisi ini. Semuanya tidak relevan, berbeda denganku.
(lalu mulai berfikir…)
Perutku selalu kenyang, tidak pernah kekurangan makan. Kalaupun sudah makan, terkadang masih ditambah camilan dan jajanan lainnya.
Ruhiyahku tidak beres. Dalam memenuhi amanah dari qiyadah, aku selalu berusaha yang terbaik, memberikan totalitas, berusaha disiplin. Tapi mungkinkah ini tanda-tanda ke-tidak ikhlas-an ku, karena aku tidak se-total itu dalam memenuhi perintah Allah dan sunnah Rasulullah. Berkali-kali aku selalu ijin bila terlambat syuro, tapi jarang menyesal ketika tidak sholat tepat waktu atau ketika melewati malam tanpa qiyamul lail, pagi tanpa dhuha dan siang tanpa dzikir.
Kalau Qiyadah berbuat makruh, maka jundi berbuat haram. Kalau aku, berbuat haram? lalu bagaimana dengan calon jundiku kelak? Padahal taruhannya adalah dakwah yang pernah ku ikrarkan di sana.
Ketika aku berhadapan dengan musuh, apakah murni ikhlas karena Allah?? ataukah karena ingin disebut sebagai mujahidah?? ataukah merasa bangga ketika menorehkan prestasi-prestasi dalam dakwah?? Ketika aku berhadapan dengan musuh, masih ada illah yang lain dalam hatiku,masih ada dunia dalam hatiku.
Lagipula Aku sering berdamai dengan diriku sendiri... aku sering mengikuti kesenangan-kesenangan hawa nafsuku... menonton tv, tidur, mendengarkan musik, shopping dan segala aktivitas yang membuatku longgar.
Ketika sudah tersibghoh dengan Islam, FISIKku memang berubah, tapi apakah HATIku telah berubah...?
Dakwah tidak bisa berjalan dengan baik jika da'inya mencampuradukkan antara ego dengan amanahnya... Para sahabat berperang mencari mati... aku berperang saja belum pernah, terluka saja belum pernah, bagaimana mencari mati...?
Dakwah itu LAMA dan MELELAHKAN... ya, lama dan melelahkan, lama dan melelahkan... lama dan melelahkan, itulah tabiatnya, kalau aku tidak merasakan lama dan melelahkan, mungkin aku kesasar... lama dan melelahkan, terutama dalam mentarbiyah diriku ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar