Sabtu, 12 November 2011

Berkasih dalam Dakwah, Meretas Resah dalam Hati

Surabaya-13 November 2011. Minggu pagi yang penuh planning ide dan tugas. Berhasrat untuk mengikuti lomba disana-sini, apalagi di FB ada share info lomba yang sederet banyaknya. Lalu >>>>> getaran ponsel membuyarkan tarian jemariku dari atas keyboard laptop. Tertulis di awal pesan itu “Mbak maaf hari ini sepertinya gak jadi ikutan karena ada…”. Dalam hati sedikit lega karena schedule sedikit berkurang, dan ku torehkan pandanganku kea rah Time Schedule Wall di ruang mungilku. Oooh God rupanya belum ada cukup space untuk bersantai, masih banyak amanah yang menuntut untuk segera di selesaikan.
Kembali membuka notes kecil dari dalam tas yang ku bawa pada saat pertemuan kecil sabtu kemarin dan melihat banyak coretan-coretan kecil pengulang memori. Dalam bacaku Aku memanjatkan kalimat tasbihNYA “Ya Allah kalau memang tidak banyak orang yang peduli ini – kuatkan raga ini untuk tetap istiqomah menujuMU”
Sebenarnya seminggu ini justru karena terlalu konsen terhadap tugas malah mengurangi waktuku untuk bersosialisasi. Singkat cerita banyak hal penuh hikmah yang Aku lewati. Dimulai sejak jumat kemarin, dalam Reminder Wall sudah tertulis akan ada beberapa workshop, tutorial dan seminar yang harus ku hadiri tapi ternyata Calon Masterpiece-ku membuyarkan plan schedule-ku, termasuk kajian bersama Ustadz Salim A. Fillah. Ahhh..ternyata diri ini masih saja belum bisa mengutamakan prioritas. Sembari menyusun Calon Masterpiece-ku, iseng-iseng ku buka beberapa jejaring dakwah. Sempat terharu dan hampir menumpahkan sekelebat air dari pelupuk mata ketika melihat para ikhwan di video itu sedang ‘berdakwah’. Lembaga *** yang sekarang sedang ku ikuti juga, di video itu Aku melihatnya bisa dengan bebas berkarya, berkreasi dan berkontribusi.
Kembali jiwa ini menanyakan dalam hati.
“wahai jiwa rasa apakah yang sedang berkecamuk di dada ini?”
Sang jiwa menjawab dengan lirih…
“iri”
Akal pun seolah membenarkan jawaban kecil ini.
“Mengapa iri? Toh aku mempunyai banyak kerabat dan teman dekat. Aku bisa mandiri dengan semua pencapaianku dan banyak hal yang membuatku lebih dari mereka”.
Malaikat kecil pun mengiyakan dengan nada menggumam.
“Kamu bekerja tetapi Hatimu tidak menerima – Kamu bekerja tetapi Hatimu tidak mencinta – Kamu bekerja tetapi usahamu sia-sia – Kamu bekerja tetapi kamu tidak menikmati dan bahagia dengan pekerjaanmu, Ikhlaskah kamu bekerja?”
Seolah tidak terima dengan gumaman malaikat kecil, hati dan akal pun mulai ku ajak bekerja keras. Jawabannya masih kurang bisa ku terima, tapi inilah lenteranya:
“Dakwah bukan hanya tentang organisasi! Dakwah bukan hanya tentang posisi atau jabatan tapi jauh lebih berat daripada itu! Dakwah berilustrasi tentang kursi-kursi Kontribusi!”
***
            Organisasi dan Kontribusi. Dua kata ini sering sekali datang dan menghampiriku, mengajakku untuk lebih jauh bermain dengan mereka. Hingga akhirnya aku merasa nyaman dengan dua statement ini. Bercengkrama dan menjadikan mereka pilar hidupku. Lalu datang kata Dakwah yang belum lama ku kenal, bahkan asing untuk ku nikmati dengan sesosok diri yang lemah. Namun kata ini tak kenal lelah dan padam, ia terus saja menjerumuskan pribadi ini kedalamnya. Memberikan berjuta ekspresi dalam melukiskan pelangi jiwa sang pemilik diri. Memberikan beragam kenyamanan bagi sang pemilik diri. Sampai di sebuah masa, jiwa ini belajar untuk PeDeKaTe dengan sang kata yang berjumlah 6 huruf.
            Berawal dari lingkungan organisasi yang kondusif baginya; sang diri nampak mulai akrab dengan kata ini. Beberapa kawan dan kerabat sangat mendukung namun tak jarang pula yang tidak setuju. Ia pun memutuskan untuk memulai dengan niat positif dan menjadi lebih baik. Alhamdulillah langkah awal berajalan cukup mulus, walaupun sedikit melupakan beberapa hal penting (baca: ijin).
(to be continue..InsyaAllah akan segera di selesaikan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar