Jumat, 11 November 2011

Bertelepati dengan Papa

Papa…

Malam ini adek mendengar lantunan Q.S. Luqman:13.
Teringat akan sosokmu sebagai penikmat surah ini.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Bagaimana kondisi kesehatanmu?
Adek harap papa dalam keadaan sehat dan dalam lindunganNYA

Sudah cukup lama adek tidak mencium tanganmu
Sudah cukup lama adek tidak mendengar suaramu
Seringkali dalam lamunan adek hadir wajahmu
Rasanya baru kemarin adek pamit pergi untuk belajar

Berat rasanya saat adek jauh dari papa
Sendiri dalam gulita malam, sendiri dalam jalan penuh kejahatan
Sendiri dalam kegelisahan, sendiri  dalam sesaknya metropolitan
Tidak ada sosok penjaga di dekat adek saat ini

Adek takut kehilangan kesempatan untuk berbakti padamu
Adek takut kehilangan peluang membalas budimu
Ingin rasanya berada di dekatmu selalu
Menyiapkan koran dan sarapan pagi
Menyeduh segelas teh melati untukmu
Bahkan menyiapkan pakaian rapi untuk kau kenakan.

Papa…

Gadismu kini bertumbuh dewasa
Sedih rasanya jika mengingatmu
Rambutmu semakin banyak yang memutih
Fisikmu semakin renta
Kulitmu kini nampak gelap dan keriput
Penglihatanmu semakin berkurang

Rinduku menjadi memuncak padamu
Ketika membayangkan engkau mengetuk pintu kamarku
Membangunkan ku saat kumandang adzan subuh
Tanganmu tidak segan mencubitku
Saat aku berusaha menutup telinga di subuh-subuh itu

Rinduku menjadi memuncak padamu
Ketika membayangkan engkau menemaniku mengambil wudhu
Menuntunku dengan sabar karena kantukku yang memuncah
Meninggikan nada suaramu
Saat aku berkilah menuju mushalla

Rinduku menjadi memuncak padamu
Ketika membayangkan engkau sedang bertafakur dimalam hari
Menangis dihadapan Allah
Menghabiskan sisa malam dengan mengadu kepada Allah
Mendoakan kami anak-anakmu
Papa…

Janganlah engkau berhenti menegurku
bahkan memarahiku saat Aku tidak menuruti perintah muliamu
Janganlah engkau lemahkan semangatmu
dalam memimpin bahtera keluargamu ini
menggapai keridhoan Allah

Masih ingatkah kau Papa?
Saat aku mulai belajar ilmu Tajwid
Ada berapa banyak kesalahan yang ku ucapkan..
Namun bimbinganmu sungguh tulus
tak peduli berapa kali lagi engkau harus mengulang

Papa…

Aku ingin engkau terus membimbingku
dengan tuturmu, lakumu dan semua tentangmu
Berapa banyak usianya telah kau korbankan?
Masih adakah engkau berkeinginan untuk menggapai kemewahan dunia
Semua ini akan sama-sama kita tinggalkan
Sudah siapkah engkau?
Dengan lima pertanyaan Munkar dan Nakir
Dan menghadapi alam kubur yang begitu luas
Dimana Sayyidina Ustman selalu menangis setiap malam
Dengan mengkhatamkan 30 juz Alquran
Karena takut tidak akan selamat 

Papa…

Aku sungguh mencintai dan menghormatimu
Tapi aku lebih mencintaimu
Ketika engkau habiskan waktumu untuk menebar kebaikan
dan bermanfaat bagi banyak orang

Genggam tanganku pa, saat Aku mulai tersihir ke arah yang salah
Tarik kuat tubuhku pa, saat Aku akan tergelincir ke dalam jurang kenistaan
Tahan langkahku pa, saat Aku akan melakukan banyak kemungkaran disana

Maafkan adek pa…
Bukan maksud adek memberi nasehat kepadamu
Bukan pula maksud adek mengajarimu
Tapi karena rasa cinta yang membuat adek mengirimkan telepati seperti ini
Karena jarak yang terlampau,
Tidak banyak hal yang mampu adek perbuat
Selain mengajakmu untuk bersama-sama lebih dekat kepadaNYA
Bantu adek dengan kekuatan doamu papa..
Sekian telepati untukmu
Salam hangat dari seberang lautan menapak ilmu
Dari putrimu yang penuh kekurangan dan kelemahan :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar