Parasnya cantik, kulitnya putih bersinar, Irisnya matanya laksana permata kecokelatan, mahkota kepalanya laksana sutera yang halus, hitam dan berkilau. Gadis kecil nan jelita itu kini memasuki usia ke-Ibuannya (44 thn). Ia menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa terpencil di bawah kaki gunung Soputan, Molompar - Sulawesi Utara. Hidup bersama lima orang keluarga beserta Ayah dan Ibunya. Masa kecil nan menyenangkan, Ia habiskan untuk membantu Ayahanda tercinta dalam menggembalakan sapi dan mengurus ladang keluarga. Aktivitas ini terus-menerus Ia lakukan hingga usianya beranjak remaja dan dewasa. Sang gadis adalah aktivis gereja Protestan di kampung halamannya. Berulang kali Ia mewakili gerejanya dalam beberapa kompetisi-kompetisi unggulan pemuda-pemudi gereja. Sifatnya yang ramah, periang dan pekerja keras menjadi lirikan pendeta dan pengurus gereja yang pada saat itu mengadakan pemilihan Persekutuan Remaja Berbakat. Sejak saat itulah sang gadis nampak disegani oleh kawan-kawannya, penduduk sekitar lingkungan dan desa tetangga. Namun hal ini tidak menjadikan sang gadis lupa diri, Ia tetap membumi bersama teman-teman sebayanya. Hingga pada suatu saat sang gadis mulai beranjak dewasa, Ia menamatkan bangku SMAnya di usia yang cukup belia.
Bermodalkan keyakinan dan keberanian besar, setelah lulus dari bangku SMA Ia mencoba untuk mengadu nasib di Kota Manado. Alhasil, 6 bulan di Kota Manado Ia manfaatkan mengisi hari-harinya dengan bekerja dan menimba keterampilan dengan kursus menjahit dan kursus membuat kue. Merasa tidak cukup nyaman dengan kehidupan di Kota, akhirnya Ia putuskan untuk berhenti bekerja dan kembali ke kampung halamannya di desa. Di lingkungan tempat tinggalnya, sang gadis di kenal sebagai gadis yang cantik dan periang. Tidak heran jika banyak pemuda yang jatuh hati padanya. Dengan kembalinya Ia ke rumah membuat Ia semakin rajin menata rohaninya (baca: aktivis gereja). Akhir pekannya Ia pergunakan untuk pelayanan umat di gereja, mengajarkan sekolah minggu dan banyak aktivitas lainnya.
***
Berita dari seorang sepupu yang berada di luar Pulau Sulawesi membuyarkan lamunannya untuk berlama-lama menetap di rumah. Sang gadis pun meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk mengunjungi sepupunya di Balikpapan. Baginya terasa berat ketika harus meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang cukup lama terlebih lagi ketika harus meninggalkan pelayanan rutinnya. Namun iming-iming pekerjaan dari sang kakak membuatnya risih dan ingin segera bergegas menyusul. Salam perpisahan dengan keluarga dan kerabat menjadi penanda baginya untuk mengawali perjuangan hidup di Kota perantauan.
***
BALIKPAPAN. Di kota inilah terulas kisah kehidupan lajang hingga rumah tangganya. Di kota ini pulalah Ia berjuang hidup dan bekerja untuk melanjutkan kehidupannya. Mengawali pekerjaannya dengan melamar pekerjaan sebagai karyawan departemen store hingga beberapa tawaran model mampir di kehidupannya. Tak ada satupun tawaran model yang diterimanya, Ia hanya memilih untuk menjadi karyawan sebuah perusahaan pada saat itu. Hingga di tahun keduanya Ia berada di Balikpapan, sang gadis jatuh hati pada seorang pemuda perantauan. Berkenalan dengan status berteman untuk beberapa bulan dan akhirnya membina hubungan “lebih dari sahabat”. Tak disangka status hubungan ini mampir ke telinga sang Ayah di Manado. Sikap dan ekspresi tidak setuju dengan hubungan anaknya bersama pemuda menjadi alih-alih sang Ayah memanggil sang putri kembali pulang ke rumah. Ternyata sang pemuda adalah pemuda muslim asal Tanah Jawa yang merantau ke Balikpapan. Hubungan antara sang gadis dan pemuda itu berlanjut tanpa persetujuan keluarga di kedua belah pihak hingga di tahun kelima sang gadis menetap di Balikpapan.
***
Sang pemuda adalah pemuda desa yang jujur dan memiliki ekspektasi besar untuk sukses di perantauan. Menamatkan sekolahnya di sebuah MAN lalu bekerja ke luar kota meninggalkan sanak keluarga. Sang pemuda besar di lingkungan keluarga yang agamis dan disiplin waktu. Jiwa mudanya memberontak untuk berlama-lama di rumah setelah lulus sekolah, karena merasa menjadi panutan ke-tiga adiknya yang lain.
***
BALIKPAPAN. Lagi-lagi kota inilah yang menjadi tempat pertemuan dua insan muda ini. Memaknai hidup dengan kesamaan nasib akhirnya di tahun kelima sang gadis berada di kota ini, sang pemuda melamarnya untuk menjadi pendamping hidup. Hari itu, hanya dukungan teman, kerabat dan boss tempat mereka bekerja saja yang tampak. Tidak ada support dari keluarga kedua calon mempelai. Lambat laun, sang gadis mulai memikirkan jurang kepercayaan diantara mereka. Ia menginginkan hidup bersama pemuda itu tapi Ia tidak rela jika harus melepas kepercayaannya. Menjelang pernikahan, konsultasi dengan beberapa kerabat dekat mulai digencarkan. Hasilnya sama dari hari ke hari, tidak ada KUA yang melayani pernikahan berbeda agama.
Dilema tak kunjung usai, hari pernikahan mendekati batas tanggal yang di sepakati. Akhirnya melalui beberapa kali pembicaraan, sang gadis luluh untuk mengikuti agama calon suami. Pagi itu, prosesi pernikahan berlangsung khidmat diawali dengan ikrar dua kalimat syahadat dari bibir Sang gadis … (subhanallah Bundaku berISLam, terlahirlah engkau seperti seorang bayi tanpa dosa bunda!!). Tidak ada perwakilan dari keluarga pria dan wanita yang turut mendampingi. Pernikahan di lakukan dengan wali keluarga angkat si gadis. Banyak mata berdecak kagum dengan pernikahan ini.
Belum ada kalimat restu terlontar dari lubuk hati Ayah sang gadis. Hingga akhir hari menakjubkan itu usai. Hati sang ayah cukup tesayat-sayat ketika melihat kenyataan putrinya berpindah kepercayaan. Putri kesayangan yang selalu membantunya.
Keluarga kecil itu harmonis walaupun dengan beberapa kebiasaan yang kurang enak dipandang. Sang istri yang telah berislam, tidak sepenuhnya melaksanakan komitmen dari kalimat syahadat yang Ia ucapkan. Hingga akhirnya keluarga kecil ini di karuniai seorang anak perempuan (hhmmm..akuu). Mendengar kabar ini, keluarga sang istri yang memang sudah lama menunggu kehadiran cucu turut merespon dengan kebahagiaan. Seolah hilang sudah perasaan marah yang selama ini bersemayam di hati sang Ayah (Alhamdulillah yaa). Sungguh luar biasa ketika mendengar kelahiran cucu keduanya, Ibunda sang istri bermaksud untuk mengunjungi anaknya di Balikpapan. (Inilah keajaiban sabar). Hal ini Ia lakukan sebagai bukti kasih sayang seorang Ibu yang abadi. Walau beberapa penyakit hati masih bermuara di dadanya tetapi kontak batin antar Ibu dan anak tidak bisa di lepaskan.
Hingga saat ini, wanita itu memang masih belum melaksanakan rukun Islam dan Iman sepenuhnya tetapi kesabaran sang suami dan kehadiran anak-anaknya mampu membuat Ia tetap bertahan dalam dekapan ISLAM ini. Dialah Ibuku, orang selalu yakin dengan usaha dan kerja kerasnya, yang selalu mendoakan anak-anaknya untuk lebih baik daripada dirinya, yang terus memberi semangat kepada anak-anaknya dengan cara-caranya yang tak terduga, yang tak pernah henti-hentinya berdoa untuk memberi makan anak-anaknya dengan hasil yang halal.
MUALLAF itu adalah seorang wanita yang ku panggil dengan sebutan BUNDA…!! Cerita yang selalu haru ketika aku mengulang memori ini untuk ku jadikan ladang muhasabbah diri. Bagaimana jadinya kalau kala itu Ibuku belum berISLAM dan melahirkan aku dalam keadaan nasrani?? dear ALLAH..IMAN dan ISLAMmu adalah anugerah yang terbesar dalam kehidupanku. Sampai mati. Bundaku – surgaku, ku ingin kita bersama-sama lebih mendekat lagi padaNYA – bersamaku-papa-bunda dan adik. Jadikanlah kami manusia-manusia pilihanmu ya Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar